Selasa, 15 Desember 2009

Makrus ali wants to keep up with you on Twitter

Makrus ali wants to keep up with you on Twitter

Twitter connects you with everything you want to know, right now. Short bursts of information are readily available from news organizations, corporate entities, politicians, celebrities, local businesses - even your close friends and family. Also, if you have something to share with the world, Twitter makes it super easy. To join for free, click the link below. http://twitter.com/i/7b9fe9ef5455befed9c1ee301cf7376411d037df

Thanks,

@twitter

About Twitter, Inc.

Founded in 2007, Twitter Inc believes the open exchange of information can have a positive global impact. Every "Tweet" is limited to 140 characters of text or links which means they are easily written or read on a wide variety of services and devices including any mobile phone, social networks, television, Macs, PCs, and the Web.

This message was sent by a Twitter user who entered your email address. If you'd prefer not to receive emails when other people invite you to Twitter, click here: http://twitter.com/i/o?c=Slhput0DUqQxG5JSfX%2BrLMDjJHnbSaqf7dy%2B6cIXXq0%3D

Please do not reply to this message; it was sent from an unmonitored email address. This message is a service email related to your use of Twitter. For general inquiries or to request support with your Twitter account, please visit us at Twitter Support.

Kamis, 10 Desember 2009

Yuk Ikutan Cari Uang di Internet ...!

Cari uang di Internet, caranya ...? Klik kla banner diatas kemudian ikuti langkah- langkahnya, dan jangan berfikir negatif, sudah banyak bukti kalau mereka bisa menghasilkan uang di Internet

Ok, sampai jumpa di puncak kesuksesan !!


Regard,
Makrus Ali



Minggu, 06 Desember 2009

Mengoptimalkan PNPM

Usaha pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lewat Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM) merupakan terobosan bagus. Sayang, banyak warga yang tidak mampu memanfaatkannya secara tepat. Karena tidak mengerti, dana tersebut hanya dimanfaatkan untuk program fisik yang tidak bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Untuk mengatasinya, sebelum menyalurkannya, pemerintah harus mempelajari dahulu nilai tambah suatu daerah atau desa yang masih belum termanfaatkan secara maksimal. Perlu pembimbingan secara konstan hingga masyarakat mampu memanfaatkan potensi daerahnya secara mandiri.

Pemerintah juga perlu menciptakan hubungan antara universitas yang terdekat dan masyarakat. Harapannya, tercipta penerapan ilmu pengetahuan dengan peningkatan taraf hidup masyarakat lewat program desa binaan langsung oleh akademisi dari berbagai disiplin ilmu.

Gunawan S., Jl Mangga 2, Jember, Jatim
sumber : Jawapos

Motif Politik Pengusutan Century

Oleh: Moch. Nurhasim


PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono menengarai bahwa ada motif politik di balik desakan pengusutan Century. Karena itu, presiden meminta seluruh pihak yang terlibat di pentas politik nasional mematuhi aturan dan etika demokrasi (JP, 5/12/09). Selain menduga ada motif politik, Presiden SBY mengatakan akan ada gerakan 9 Desember 2009 yang juga bermuatan yang sama, bukan semata-mata sebagai gerakan antikorupsi yang murni.

Ada apa di balik pernyataan Presiden SBY yang begitu sensitif akhir-akhir ini dalam menanggapi langkah politik para pengusung hak angket Century, gerakan para tokoh, NGO, dan masyarakat di luar parlemen yang juga mempersaolkan dana bailout Century?

Kecemasan Impeachment

Pernyataan tersebut dapat ditafsirkan sebagai kecemasan pemerintahan SBY-Boediono atas bola liar Century yang terus menjadi instrumen bagi berbagai pihak, khususnya pihak oposisi untuk mengkritik kebijakan dan langkah pemerintah.

Apalagi, mulai muncul tuntutan untuk menonaktifkan Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani seperti yang disebut Amien Rais. Jika pengusutan panitia hak angket Century itu berakhir tuntas, bisa jadi agenda para inisiator angket Century tidak hanya akan berhenti pada kejelasan aliran dana, tetapi juga kesalahan kebijakan yang dibuat gubernur BI (yang kini menjadi wakil presiden) dan Sri Mulyani sebagai menteri keuangan.

Desain kocok ulang kabinet itu pernah digagas para pihak yang mengusung angket Century. Karena itu, wajar jika SBY gundah gulana atas agenda politik di balik pengusutan Century tersebut. Sebab, tidak tertutup kemungkinan, jika para oposisi di parlemen terkonsolidasi secara kuat, impeachement (pemakzulan) terhadap wakil presiden dapat saja terjadi.

Dan, jika hal itu terjadi, Indonesia yang pertama mengalami hal yang baru sama sekali. Sejarah impeachment atas Presiden Abdurrahman Wahid mungkin saja dapat terulang. Bedanya, hal itu tidak terjadi pada diri presiden, tetapi wakil presiden.

Masalahnya, jika yang dimakzulkan adalah wakil presiden, bagaimana mekanisme dan tata cara penggantiannya? Jika pencalonannya satu paket, apakah berarti paket tersebut secara otomatis dimakzulkan? Sayang, persoalan tersebut tidak diatur oleh UUD Negara RI Tahun 1945.

Karena itu, kecemasan Presiden SBY pantas dikemukakan. Sebab, jika arah politik hak angket Century sampai pada pemakzulan wakil presiden, bagaimanapun pemerintahan SBY-Boediono akan goyah.

Di sisi lain, akan ada kekosongan jabatan wakil presiden, mungkin akan mengulang pada saat demokrasi terpimpin ketika Mohammad Hatta mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden yang akhirnya tidak pernah diganti hingga Presiden Soekorno lengser digantikan Soeharto.

Selain itu, kasus Bank Century dan Bibit-Chandra juga telah menyedot energi dan perhatian pemerintah yang terus dirundung isu-isu negatif. Hampir 100 hari ini praksis dua kasus tersebut yang menjadi perhatian utama pemerintah, sementara masih banyak agenda politik lain yang juga perlu dituntaskan.

Dengan kata lain, pengusutan kasus Century jika berujung pada pemakzulan dapat dianggap sebagai motif politik yang luar biasa.

Motif Politik Biasa

Meski demikian, di balik pengusutan kasus Century, kita juga perlu memandang secara jernih bahwa ada motif politik yang biasa. Motif itu terkait tugas-tugas konstitusional parlemen (DPR) untuk mengawasi dan mengontrol kebijakan pemerintah.

Bagaimanapun temuan audit BPK yang menengarai adanya penyimpangan dalam bailout Century perlu diusut tuntas. Dalam konteks itu, kepentingan para pengusung hak angket dan DPR dapat diarahkan kepada beberapa hal.

Pertama, sebagai sarana kontrol atas ''kesalahan kebijakan'' yang dilakukan Bank Indonesia dan menteri keuangan seperti yang telah ditemukan oleh laporan audit BPK. Persoalannya, apakah hanya semata-mata kesalahan prosedural dan apa sanksi atau tindakan lebih lanjut dari itu.

Karena itu, kehadiran panitia angket Century dapat dijadikan sarana untuk memperjelas benang kusut skandal politik, khususnya untuk mencari aktor para pejabat yang terlibat dalam kasus tersebut.

Jika kita mengutip mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla -yang sejak menjadi Wapres sudah mengatakan bahwa kasus Century adalah perampokan-, agenda pentingnya ialah membongkar siapa saja yang berada di balik perampokan uang rakyat tersebut.

Kedua, menjadikan temuan-temuan dari hak angket Century DPR sebagai entry poin (pintu masuk) bagi pengusutan tindak pidana lebih lanjut. Tujuannya jelas agar ada kepastian hukum di negeri ini.

Hakikat dari demokrasi yang beretika adalah demokrasi yang disertai kepastian hukum dan kesamaan hukum. Sebab, demokrasi tanpa adanya kepastian dan ketaatan asas aturan main (rule of the law) akan berbuah menjadi anarki.

Ketiga, DPR dapat menjadikan hak angket Century sebagai instrumen untuk memperjelas ke manakah dana rakyat itu berlabuh? Apakah betul seluruhnya digunakan untuk Century, ataukah ada kepentingan-kepentingan pihak tertentu yang memanfaatkan dana tersebut.

Karena itu, jika panita angket Century tidak dapat mengurai aliran dana talangan itu, tentu kasus tersebut terus akan menjadi kasus yang penuh dengan misteri. Misteri skandal politik kadang-kadang dapat dijadikan sebagai isu politik, tetapi terkadang juga dapat disimpan di bawah laci alias dipetieskan.

Semua itu bergantung pada seberapa jauh anggota DPR yang sedang menggunakan hak konstitusionalnya mampu melakukan investigasi dan membuka secara transparan kepada publik atas temuan-temuan BPK sebelumnya. (*)

*). Moch. Nurhasim, peneliti pada Pusat Penelitian Politik LIPI di Jakarta
Sumber : Jawapos

Tekan Emosi, Teriak di Kamar Mandi

Empat pria ini melakoni pekerjaan yang menuntut kesabaran tingkat tinggi. Padahal, pria dikenal memiliki ego tinggi dan emosi yang mudah tersulut. Bagaimana mereka menghadapi tingkah klien yang beraneka? Sedikit cerita dibagikan Hendra, Arga, Abi, dan David.

---

Bagaimana ceritanya bisa sampai di pekerjaan sekarang?

Abi: Latar belakang pendidikan saya dari Manajemen Informatika. Tapi, saya memulai karir dari penyiar radio di Hard Rock. Menurut saya, kerja di radio itu yang membentuk saya. Soalnya, kita ngurusi semua hal. Mulai memproduksi acara, promosi, bikin kontrak, serta bagaimana bertemu banyak orang.

David: Saya dari Desain Komunikasi Visual. Tapi, dari dulu saya suka mencoba berbagai jenis pekerjaan baru. Saya pernah jadi fotografer, kerja di event organizer, sampai akhirnya jadi penyiar radio Colors. Benar kata Abi, radio itu yang mengajari kita banyak hal. Terutama, membuat even serta promosi.

Arga: Kalau latar belakang akademik, saya dari Hukum. Sebelum yang sekarang, saya juga sudah pernah menjalani pekerjaan sejenis. Tapi, waktu itu lebih banyak bikin acara tur promosi produk. Terus saya juga masuk di My Radio selama dua tahun. Lalu di IALF mengurusi relation internal maupun external. Karena saya ingin peluang karir yang lebih besar, saya masuk ke yang sekarang.

Hendra: Wah saya beda dengan ketiga orang ini. Saya dari Desain Komunikasi Visual. Tapi, passion saya emang di bidang yang ini. Dulu saya pernah jadi desain produk di sebuah perusahaan consumer goods, tapi kurang menantang. Baru sekarang ini saya menikmatinya. Rasanya saya menemukan pekerjaan yang saya sukai. Bertemu banyak orang.

Pernah kesulitan menghadapi klien yang rewel?

David: Saya ini tipenya mudah marah. Tapi, kalau di hadapan klien, saya tidak pernah marah. Harus senyum. Baru setelah klien pergi, saya langsung ke kamar mandi. Teriak atau menghantam tembok. Atau, kalau misalnya lagi di kantor. Saya diam saja di meja. Nggak mau bicara dengan siapa saja. Biasanya orang-orang di sekitar saya hapal, kalau lagi diam, itu tandanya saya lagi marah.

Hendra: Kalau saya beda. Saya bukan orang yang gampang marah ya. Nggak tahu. Katanya orang-orang sih, saya punya kelebihan. Jadi, kalau ada yang telepon dan mau marah-marah, setelah dengar suara saya, langsung nggak jadi marah. hehehehe. Tapi, karena pada dasarnya saya bukan pemarah, jadi ya nggak masalah.

Abi: Saya juga seperti Hendra, bukan tipe yang emosian. Kalau ada klien yang komplain, dengarkan dulu. Jangan langsung dijelaskan, nanti bisa semakin marah. Kalau kemarahanya sudah reda, baru dijelaskan begini begitunya. Kalau untuk meredakan emosi, saya biasanya mendengarkan musik apa saja yang lagi saya senengi saat itu.

Arga: Saya ini orangnya mudah emosian dan suka langsung menunjukkannya. Misalnya, saya lagi marah sama seseorang, bagaimana caranya saya berusaha menunjukkan ke orang tersebut kalau saya marah. Entah diam atau apa. Kalau dulu, mungkin saya berani adu fisik. Tapi sekarang sudah enggak lagi. Kalau berhadapan dengan klien yang marah, lihat dulu permasalahannya. Dia punya bukti konkret nggak. Kalau enggak ya sudah.

Setelah menekuni pekerjaan ini, ada perubahan sifat?

Abi: Perubahan sifat rasanya sih enggak. Tapi, saya jadi punya banyak teman. Menurut saya, kalau bisa menjadikan klien kita sebagai teman, akan lebih mudah kalau harus melakukan pendekatan. Dengan banyak teman, kita jadi lebih banyak memahami karakter orang yang berbeda-beda.

Arga: Saya jadi terbiasa detail. Hal sekecil apapun jadi perhatian saya. Teman saya sampai bilang saya Obsesive Compulsive Disorder. Jadi, kalau semuanya tidak sesuai dengan harapan, saya bisa marah-marah. Khusus untuk pekerjaan saya sendiri, saya selalu perfeksionis.

David: Saya mungkin belajar untuk menahan emosi. Menurut saya, semakin tinggi jabatan, semakin menuntut orang itu mampu mengontrol emosinya. Kalau dulu mungkin saya marah bisa ngaploki orang. Kalau sekarang saya nggak mungkin ngaploki anak buah kan. Bisa dituntut saya. Biasanya sih, bos dan beberapa rekan senior yang menjadi role model saya. karena aya lihat, mereka memiliki kematangan emosi yang bagus. Padahal mereka mengawali karir seperti saya.

Hendra: Saya apa ya? Nggak ada perubahan yang terlalu bagaimana begitu. Pekerjaan saya dilakukan bareng-bareng. Jadi, saya juga belajar ke teman lain bagaimana caranya mengayomi orang, menghargai orang. (any/nda)

Arga Brahma (Arga)

Single, 26 tahun

Event Coordinator & Media Relation Tunjungan Plaza Surabaya

David Hutani (David)

Single, 29 tahun

Marketing Manager Hartono Elektronika

Hendra Linanda (Hendra)

Single, 27 tahun

Marketing Communication Ciputra Golf, Club & Hotel

Abi Dinarta (Abi)

Single, 28 tahun

Marketing & Promotion Celebrity Fitness

Sumber : jawapos